Uji Asumsi Klasik menggunakan SPSS

Assalamu’alaikum wr.wb

Kesempatan kali ini saya akan berbagi mengenai uji asumsi klasik. Berikut penjelasannya.

Model regresi linear berganda (mutiple tegression) dapat disebut sebagai model yang baik jika model tersebut memenuhi Kriteria Blue (Best Linear Unbiased Estimoto). Blue dapat dicaoai bila memenusi Asumsi Klasik.

Sedikitnya ada lima uji asumsi klasik yang harus dilakukan terhadap suatu model regresi tersebut, yaitu:

  1. Uji Normalitas
  2. Uji Homogenitas
  3. Uji Multikolinieritas
  4. Uji Heteroskedastisitas
  5. Uji Linieritas

Lanjutkan membaca Uji Asumsi Klasik menggunakan SPSS

Hasil Perhitungan Tinggi Badan 20 Orang Mahasiswa Menggunakan SPSS

Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh 🙂

Hay teman-teman semua.. Kali ini saya ingin membagi informasi mengenai hasil perhitungan tinggi badan 20 teman saya dengan menggunakan SPSS. Setelah
proses pengumpulan data, diperoleh data seperti dibawah ini:

Untitled
Gambar 1: Data Tinggi Badan 20 Mahasiswa

Lanjutkan membaca Hasil Perhitungan Tinggi Badan 20 Orang Mahasiswa Menggunakan SPSS

Makhluk Anaerob Penyebab Difteri

Apakah kalian mengetahui penyakit difteri? Difteri itu jenis penyakit menular yang mematikan loh! Banyak terdapat kasus mengenai penyakit difteri ini pada negara berkembang seperti Indonesia. Menurut Dinkes Jatim, jumlah kasus penyakit difteri di Propinsi Jawa Timur tahun 2006 sebesar 39 kasus, dengan rincian jumlah terbanyak Kota Surabaya 8 Kasus, Kab. Sidoarjo 7 kasus, Kab. Sumenep 4 kasus dan Kota Probolinggo 4 kasus. Difteri ini disebabkan oleh Corynebacterium diphtheria.

Apasih Corynebacterium diphtheria itu?

Bakteri Corynebacterium diphtheriae Lanjutkan membaca

Jahe Sebagai Agen Pengontrol Mikroba


Pernahkah kamu mengalami mual berat, keram, dan lemah, kadang-kadang disertai diare? Atau bahkan luka tersayat pisau yang menjadi nanah? Jika kamu pernah, banyak penyebab dari kejadian tersebut. Dalam kesempatan kali ini penulis akan menyampaikan salah satu faktornya, yaitu faktor yang disebabkan oleh infeksi bakteri Staphylococcus aureus.

Staphylococcus aureus

Kingdom : Monera

Divisio : Firmicutes

Class : Bacilli

Order : Bacillales

Family : Staphylococcaceae

Genus : Staphilococcus

Species : Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus (S. aureus) adalah bakteri gram positif yang menghasilkan pigmen kuning, bersifat aerob fakultatif, tidak menghasilkan spora dan tidak motil, umumnya tumbuh berpasangan maupun berkelompok, dengan diameter sekitar 0,8-1,0 µm (Madigan, 2008) ; WHO; 2004). Staphylococcus aureus tumbuh dengan optimum pada suhu 37ºC dengan waktu pembelahan 0,47 jam. Staphylococcus aureus merupakan mikroflora normal manusia (Prescott, 2002). Bakteri ini biasanya terdapat pada saluran pernapasan atas dan kulit (Madigan, 2008) ; (Honeyman, 2001). Keberadaan Staphylococcus aureus pada saluran pernapasan atas dan kulit pada individu jarang menyebabkan penyakit, individu sehat biasanya hanya berperan sebagai karier (Madigan, 2008). Infeksi serius akan terjadi ketika resistensi inang melemah karena adanya perubahan hormon; adanya penyakit, luka, atau perlakuan menggunakan steroid atau obat lain yang memengaruhi imunitas sehingga terjadi pelemahan inang (Madigan, 2008).

Staphylococcus aureus termasuk bakteri osmotoleran, yaitu bakteri yang dapat hidup di lingkungan dengan rentang konsentrasi zat terlarut (contohnya garam) yang luas, dan dapat hidup pada konsentrasi NaCl sekitar 3 Molar. Habitat alami S. aureus pada manusia adalah di daerah kulit, hidung, mulut, dan usus besar, di mana pada keadaan sistem imun normal, S. aureus tidak bersifat patogen (mikroflora normal manusia) (Prescott, 2002).

Suhu optimum pada pertumbuhan Staphylococcus aureus adalah 35-37ºC, dengan suhu minimum 6,7ºC dan suhu maksimum 45,5ºC. Staphylococcus aureus dapat tumbuh pada pH 4,0-9,8 dengan pH optimum sekitar mendekati 9,8 hanya mungkin bila substratnya mempunyai komposisi yang baik untuk pertumbuhannya. Untuk pertumbuhan optimum diperlukan 11 asam amino, yaitu valin, leusin, threonine, phenilalanin, tirosin, metionin, lisin, prolin, histidine, dan arginine (Putra, 2006).

Bakteri Staphylococcus aureus hidup sebagai saprofit di dalam sauran-saluran pengeluaran lendir dari tubuh manusia dan hewan seperti hidung, mulut, dan tenggorokan, dan dapat dikeluarkan pada waktu batuk atau bersin. Bakteri ini juga terdapat pada pori-pori dan permukaan kulit, kelenjar keringat, dan saluran usus. Beberapa gejala akibat intoksikasi bakteri ini adalah mual berat, keram, dan lemah, kadang-kadang disertai diare. Masa inkubasi selama 2-6 jam ( Supardi dan Sukamto, 1999).

Infeksi S. aureus dapat menular selama ada nanah yang keluar dari lesi atau hidung. Selain itu jari jemari juga dapat membawa Infeksi Staphylococcus aureus dari satu bagian tubuh yang luka atau robek. Luka adalah kerusakan pada struktur anatomi kulit yang menyebabkan terjadinya gangguan kulit. Contoh yang paling mudah jika jari tangan kita tersayat oleh pisau, maka luka yang timbul akan menyebabkan terjadinya kerusakan pada kulit sehingga kulit tidak lagi dapat melindungi struktur yang ada dibawahnya. Infeksi pada luka dapat terjadi jika luka terkontaminasi oleh debu atau bakteri, hal ini disebabkan karena luka tidak dirawat dengan baik. Salah satu bakteri yang menyebabkan infeksi pada kulit luka yaitu bakteri Staphylococcus aureus. Infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus dapat terjadi secara langsung maupun tak langsung. Bakteri ini menghasilkan nanah oleh sebab itu bakteri disebut bakteri piogenik (WHO, 2004).

Dalam uraian tersebut, bakteri Staphylococcus aureus dapat kita kontrol pertumbuhannya. Salah satu  agen pengotrol mikroba yang akan penulis bahas adalah jahe. Jahe (Zingiber officinale) merupakan tanaman rimpang yang banyak tumbuh di Indonesia. Klasifikasi tanaman jahe ini adalah:

Jahe

Kingdom: Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub-divisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledoneae

Ordo : Zingiberales

Famili : Zingiberaceae

Genus : Zingiber

Species : Zingiber officinale

Jahe mempunyai kegunaan yang cukup beragam, antara lain sebagai rempah, minyak atsiri, pemberi aroma, ataupun sebagai obat (Bartley dan Jacobs 2000). Secara tradisional, kegunaannya antara lain untuk mengobati penyakit rematik, asma, stroke, sakit gigi, diabetes, sakit otot, tenggorokan, kram, hipertensi, mual, demam dan infeksi (Ali et al. 2008; Wang dan Wang 2005; Tapsell et al. 2006). Berdasarkan bentuk, warna, dan ukuran rimpang, ada 3 jenis jahe yang dikenal, yaitu jahe putih besar/jahe badak, jahe putih kecil atau emprit dan jahe sunti atau jahe merah. Secara umum, ketiga jenis jahe tersebut mengandung pati, minyak atsiri, serat, sejumlah kecil protein, vitamin, mineral, dan enzim proteolitik yang disebut zingibain (Denyer et al. 1994).

Beberapa komponen kimia jahe, seperti gingerol, shogaol dan zingerone memberi efek farmakologi dan fisiologi seperti antioksidan, antiimflammasi, analgesik, antikarsinogenik, non-toksik dan non-mutagenik meskipun pada konsentrasi tinggi (Surh et al. 1998; Masuda et al. 1995; Manju dan Nalini 2005; Stoilova et al. 2007). Minyak dalam ekstrak jahe mengandung seskuiterpen, terutama zingiberen, monoterpen dan terpen teroksidasi.

Mulyani (2010) menyatakan bahwa ekstrak segar rimpang jahe-jahean mengandung beberapa komponen minyak atsiri yang tersusun dari α-pinena, kamfena, kariofilena, β-pinena, α-farnesena, sineol, dl-kamfor, isokariofilena, kariofilena-oksida dan germakron yang dapat menghasilkan antimikroba untuk meng-hambat pertumbuhan mikroba. Menurut Nursal et al. (2006) rimpang jahe-jahean mengandung senyawa antimikroba golongan fenol, flavonoid, terpenoid dan minyak atsiri yang terdapat pada ekstrak jahe merupakan golongan senyawa bioaktif yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba.

Kandungan senyawa metabolit sekunder pada tanaman jahe-jahean terutama dari golongan flavonoid, fenol, terpenoid dan minyak atsiri. Senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan tumbuhan Zingiberaceae ini umumnya dapat menghambat pertumbuhan patogen yang merugikan kehidupan manusia, salah satunya adalah bakteri Staphylococcus aureus (Nursal et al., 2006).

Sebelumnya, penulis mengumpulkan beberapa sumber dari beberpa jurnal mengenai manfaat jahe ini. Salah satu sumbernya adalah dalam penelitian Kartika Indah Permata Sari dalam jurnalnya yang berjudul “Uji Antimikroba Ekstrak Segar Jahe-Jahean (Zingiberaceae) Terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Candida albicans memperoleh hasil bahwa ekstrak segar rimpang jahe-jahean mampu menghambat pertumbuhan mikroba uji dengan bervariasinya rata-rata diameter daerah bebas mikroba yang terbentuk dalam hasil penelitiannya. Hal ini disebabkan karena ekstrak segar rimpang jahe-jahean mengandung senyawa anti-mikroba. Ekstrak segar rimpang jahe-jahean mengandung beberapa komponen minyak atsiri yang tersusun dari α-pinena, kamfena, kariofilena, β-pinena, α-farnesena, sineol, dl-kamfor, isokariofilena, kariofilena-oksida dan germakron yang dapat menghasilkan antimikroba untuk meng-hambat pertumbuhan mikroba.

Dalam hasil penelitian Kartika juga membuktikan ekstrak segar rimpang jahe-jahean memperlihatkan pengaruh yang berbeda terhadap masing-masing mikroba uji. Ekstrak segar rimpang jahe merah (Z. officinale var. Rubrum) mempunyai diameter zona hambat paling besar terhadap dua mikroba uji, masing-masing S. aureus ( 15,83 mm) dan E. coli (15,33 mm). Ekstrak segar rimpang jahe gajah (Z. officinale var. Roscoe) membentuk diameter terbesar terhadap mikroba uji C. albicans (10,7 mm) dan berbeda nyata dibandingkan dengan ekstrak segar rimpang jahe lainnya yang memiliki rata-rata diameter zona hambat terhadap ketiga mikroba uji berkisar antara 7-14 mm. Hal ini diduga karena komponen kimia utama penyusun minyak atsiri pada jahe adalah zingiberene yang memiliki senyawa aktif yang bersifat antimikroba, dengan jumlah yang bervariasi dari beberapa jenis-jenis jahe (Wulandari 2011).

Kemudian dalam penelitian Fakhrurrazi dan Azhari dalam jurnal mereka yang berjudul “Pengaruh Pemberian Ekastrak Jahe (Zingiber officinale) Terhadap Gambaran Titer Antibodi Ayam Setelah Ditantang Virus Avian Influenza mendapat kesimpulan bahwa pemberian ekstrak jahe berhasil meningkatkan antibodi ayam. Pada uji tantangan terlihat bahwa kelompok ayam yang diberikan ekstrak jahe memi l iki daya prot ekt ivi t a s t inggi dibandingkan dengan kelompok ayam yang tidak diberikan ekstrak jahe. Semua ayam yang mati dari uji ini memperlihatkan kelainan pasca mati berupa sianosis pada jengger dan pial, titik pendarahan (ptechie) pada kaki, udema pada kaki dan pendarahan pada bawah kulit (subkutan) disertai pendarahan pada daerah dada. Perubahan tersebut merupakan bagian dari ciri khas infeksi AI.

Dari berbagai macam kandungan zat kimia pada jahe yang mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, dapat kita manfaatkan tanaman jahe ini sebagai agen pengontrolnya. Selain itu, jahe dapat digunakan sebagai bumbu masak, pemberi aroma dan rasa pada makanan seperti roti, kue, biskuit, kembang gula dan berbagai minuman. Jahe juga dapat digunakan pada industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional, diolah menjadi asinan jahe, dibuat acar, lalap, bandrek, sekoteng dan sirup. Bahkan saat ini banyak para petani cabe menggunakan jahe sebagai pestisida alami. Dalam perdagangan jahe dijual dalam bentuk segar, kering, jahe bubuk dan awetan jahe. Selain itu terdapat hasil olahan jahe seperti: minyak astiri dan koresin yang diperoleh dengan cara penyulingan yang berguna sebagai bahan pencampur dalam minuman beralkohol, es krim, campuran sosis dan lain-lain. Dan jahe juga memiliki manfaat secara pharmakologi antara lain adalah sebagai karminatif (peluruh kentut), anti muntah, pereda kejang, anti pengerasan pembuluh darah, peluruh keringat, anti inflamasi, anti mikroba dan parasit, anti piretik, anti rematik, serta merangsang pengeluaran getah lambung dan getah empedu.

Nah, sudah paham kan mengenai “Jahe Sebagai Agen Pengontrol Mikroba”? Banyak sekali manfaat jahe untuk kehidupan sehari-hari kita. Salah satunya sebagai agen pengontrol bakteri Staphylococcus aureus. Semoga artikel ini bermanfaat dan terima kasih atas kunjungannya 🙂

Daftar Pustaka

Ali, B.H., G. Blunden, M. O. Tanira dan A. Nemmar. 2008. Some phytochemical, pharmacological and toxicological properties of ginger (Zingiber officinale Roscoe): A review of recent research. Food and Chemical Toxicology. 46 : 409–420.

Bartley, J. dan A. Jacobs. 2000. Effects of drying on flavour compounds in Australian-grown ginger (Zingiber officinale). Journal of the Science of Food and Agriculture. 80:209–215.

Honeyman AL, Friedman H, Bendinelli M. 2001. Staphylococcus aureus Infection and Disease. New York: Plenum Publishers.

Madigan MT, Martinko JM, Dunlap PV, Clark DP. 2008. Biology of Microorganisms 12th edition. San Francisco: Pearson.

Manju, V. dan N. Nalini. 2005. Chemopreventive efficacy of ginger, a naturally occurring anticarcinogen during the initiation, post initiation stages of 1, 2 dimethyl hydrazine-induced colon cancer. Clin Chim Acta. 358: 60-67.

Masuda, T., A. Jitoe dan T.J. Mabry. 1995. Isolation and structure determination of cassumunarins A, B, C: new anti-inflammatory antioxidants from a tropical ginger, Zingible cassumunar. J Am Oil Chem Soc. 72: 1053-1057.

Mulyani, S. 2010. Fakultas Farmasi UGM. Komponen dan Anti-bakteri dari Fraksi Kristal Minyak Zingiber zerumbet. Majalah Farmasi Indonesia, 21(3), 178-184.

Nursal, W., Sri dan Wilda S. 2006. Bioaktifitas Ekstrak Jahe (Zingiber officinale Roxb.) Dalam Menghambat Pertumbuhan Koloni Bakteri Escherichia coli dan Bacillus subtilis. Jurnal Biogenesis 2(2): 64-66.

Prescott LM, Harley JP, Klein DA. 2002. Microbiology. 5th Ed. Boston: McGraw-Hill.

Surh, Y.J., E. Loe dan J.M. Lee.1998. Chemopreventive properties of some pungent ingredients present in red pepper and ginger. Mutat Res. 402:259-267

Stoilova, I, A. Krastanov, A. Stoyanova, P. Denev dan S. Gargova. 2007. Antioxidant activity of a ginger extract (Zingiber officinale). Food Chemistry.102: 764–770

Tapsell, L.C., I. Hemphill, L. Cobiac, C.S. Patch, D.R. Sullivan, M. Fenech, S. Roodenrys, J.B. Keogh, P.M. Clifton, P.G. Williams, V.A. Fazio dan K.E. Inge. 2006. Health benefits of herbs and spices: the past, the present, the future. Med. J. Aust. 185 (Suppl. 4),S4–S24.

Wang, W.H. dan Z.M. Wang. 2005. Studies of commonly used traditional medicine-ginger. Zhongguo Zhong Yao Za Zhi. 30:1569–1573.

World Health Organization. 2004. Guidelines for Drinking-water Quality 3rd Edition. Geneva: World Health Organization.

Wulandari, Y. M. 2011. Karakteristik Minyak Atsiri Beberapa Varietas Jahe (Zingiber Officinale) Teknologi Pertanian. Jurnal Kimia dan Teknologi.

Fakhrurrazi dan Azhari. 2011. Pengaruh Pemberian Ekastrak Jahe (Zingiber officinale) Terhadap Gambaran Titer Antibodi Ayam Setelah Ditantang Virus Avian Influenza. http://jurnalkedokteranhewan.net/upload/archieve_pdf/7._PENGARUH_PEMBERIAN_EKSTRAK_JAHE_%28Zingiber_officinale%29_TERHADAP_GAMBARAN_TITER_ANTIBODI_AYAM_SETELAH_DITANTANG_DENGAN_VIRUS_AVIAN_INFLUENZA.pdf  diakses pada 24 April 2015 pukul 20.58 WIB

Hernani, Christina W. 2008. Kandungan Bahan aktif Jahe dan Pemanfaatannya Dalam Bidang Kesehatan. http://balittro.litbang.pertanian.go.id/ind/images/publikasi/monograph/jahe/kandungan%20bahan%20aktif%20jahe.pdf  diakses pada 24 April 2015 pukul 20.45 WIB

Kartika Indah S. 2013. Uji Antimikroba Ekstrak Segar Jahe-Jahean (Zingiberaceae) Terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Candida albicans.http://jurnalsain-unand.com/FilesJurnal/483908103Kartika%20Indah%20Permata%20Sari%20final%2020-24.pdf diakses pada 24 April 2015 pukul 19.13 WIB

Putra Jaya, S. 2006. Analisa Kandungan Bakteri Staphylococcus aureus Daging Sapi Impor di Medan Tahun 2006. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/32242?mode=full&submit_simple=Show+full+item+record diakses pada 24 April 2015 pukul 22.51 WIB

Senja

aku tak pernah membenci siang, dan aku pun tak pernah membenci malam.. karena saat mereka bersua, sebuah keindahan terlahir.. keindahan itu sungguh mendamaikan, keindahan sungguh membuat bibirku bisu, keindahan itu adalah senja…
nb: perempuan yang mencintai keindahan

senja di Ciputat 7 Januari 2015
senja di Ciputat 7 Januari 2015

Langit

mereka terlihat sangat jelas, tapi aku? apa kamu dapat menemukan aku? apa kamu dapat melihat aku sama seperti kamu melihat mereka? aku ingin jadi apa adanya.. tapi jangan salahkan aku jika aku ingin seperti mereka. pohon, burung, awan… sangat jelas dipandang, mereka indah… aku iri, aku rindu, dilihat seperti itu.. hanya awan yang mampu melindungiku, hanya pohon yang mampu menegakkanku, hanya burung yang mampu mendamaikanku… aku berharap langit biru akan menemukan masanya kembali, setelah matahari berpindah arah datang, pun setelah angin membawa awan pulang…

langit di Bogor 20 Desember 2014
langit di Bogor 20 Desember 2014

UAS MEDTEK UIN Jakarta TA 2014/2015

Materi Pencemaran Lingkungan

Pencemaran lingkungan sangat berpengaruh terhadap kualitas tempat hidup manusia. Pencemaran berdasarkan tempat seperti pencemaran air, udara, dan tanah dapat kita tanggulangi dengan cara pengolahan limbah. Selain itu, kita dapat menanggulanginya dengan cara pencegahan seperti edukasi, teknologi dan adminstrasi yang memberikan kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan tempat kita tinggal.